• Sel. Jul 23rd, 2024

Dihari Ibu, Kapolsek Sunggal, Mediasikan 2 Pihak Dalam Kasus Tuduhan Mencuri Spion Mobil

SHARE

Bharata Yudha.Com-, Medan- Kapolsek Sunggal, Kompol Chandra Yudha, tepat di hari ibu yang jatuh pada hari Rabu, 22 Desember 2021 berhasil mempertemukan sekaligus Mediasikan dua pihak dalam kasus tuduhan pencurian kaca spion mobil disertai penganiyaan yang dilakukan oleh oknum Personel Kepolisian Polsek Sunggal terhadap seorang mahasiswa bernama Hendra Frizky Novando. Bertempat di Cafe Cempaka, Jalan Bunga Cempaka, Kecamatan Medan Selayang.

Dari proses mediasi tersebut tampak kedua pihak tampak saling memaafkan dengan bersalam-salaman.

“Kedepan saya minta dibawah kepemimpinan saya, hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi, untuk proses hukum yang dilaporkan korban di Polda Sumut, saya serahkan pada pihak Propam,”ucap Chandra Yudha.

Sementara Hendra Frizky Novando didampingi keluarga dan kuasa hukumnya disaat yang sama menyerahkan proses hukum dan perdamaiannya pada kuasa hukum.

“Ya saya minta kedepanya kejadian ini tidak teulang lagi, dan pihak Kepolisian bisa lebih profesional. Untuk proses hukum dan lainya saya serahkan kepada kuasa hukum saja,”ucapnya.

 

Sebelumnya diberitakan seorang pria yang merupakan seorang mahasiswa dari Universitas Negeri di Medan, bernama Hendra Frizky Novando diduga menjadi korban salah tangkap Polisi atas tuduhan pencurian kaca spion mobil Mitsubishi Pajero Sport.

Hendra dituduh melakukan pencurian spion milik seorang wanita yang diduga istri seorang anggota polisi, berinisial VB

Penangkapan itu terjadi pada tanggal 19 Juli tahun 2021 di Dunkin Donat SPBU Ringroad Medan.

Hendra mengaku dijebak oleh VB Sebab, awalnya VB hanya berniat membeli kaca spion mobil yang dijual Hendra melalui media sosial.

Saat proses penangkapan Hendra mengaku dianiaya. Bahkan usai dibawa ke kantor polisi pun ia dipaksa mengaku tuduhan palsu sambil dicekik dan dipukul kepala bagian belakangnya.

Pemukulan itu pun disebutnya dilakukan oleh juru periksa di Polsek Sunggal berinisial JNS dan suami dari VB bersama lima orang oknum polisi lainnya.

“Kemudian di malam itu saya langsung ditangkap karena saya diduga mencuri kaca spion mobil tersebut. Dan kemudian saya dipukul, dibawa ke Polsek Sunggal. Setidaknya ada 7 orang yang memikul saya,” kata Hendra Frizky Novando, Minggu (28/11/2021).

Adapun kasus ini bermula ketika Hendra, warga Jalan Gereja, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Medan kehilangan kaca spion mobil Pajero Sport sebelah kanan miliknya.

Kemudian ia pun membeli 1Set kaca spion mobil baru untuk dipasang ke mobilnya. Sementara kaca spion lama sebelah kiri yang tersisa ia berencana menjualnya ke medsos.

Selang beberapa jam ada seorang perempuan berinisial VB yang melirik spion milik Hendra yang terpajang di market place.

Kemudian terjadi proses tawar menawar dan kesepakatan bertemu di sebuah kafe di Jalan Gagak Hitam, Medan pada 19 Juli tahun 2021 lalu.

Disaat Hendra dan VB bertemu dan memperlihatkan kaca spion tersebut tiba-tiba mereka didatangi beberapa orang yang diduga sebagai Polisi dan langsung menginterogasi soal keaslian barang dan asal usul spion tersebut.

Ketika dijelaskan kalau itu merupakan miliknya dan sisa dari kaca spion yang telah dicuri mereka tak terima dan langsung memboyongnya ke Polsek Sunggal.

Disana ia diperiksa dan dipaksa mengaku telah melakukan pencurian.

Sementara itu ketika ia mencoba menjelaskan bahwa ia memiliki bukti foto yang ada di handphonenya pun polisi disebut tak mau tahu.

Selain itu, ia juga berusaha menunjukkan kwitansi pembelian kaca spion baru yang ia pasang karena sparepart lama itu dicuri.

Setelah itu ia pun ditahan di Polsek Sunggal selama kurang lebih 26 jam sampai akhirnya polisi melepaskan karena tidak ada bukti yang kuat.

“Lamanya kurang lebih 26 jam ditahan di Polsek. Setelah itu saya dikeluarkan dengan keterangan polisinya bahwa dugaan salah tangkap. Polisi tidak mengakui karena juga surat penangkapan tidak ada dan kemudian saya dipaksa mengaku bahwa melakukan pencurian spion,” jelas korban.

Belakangan diketahui Hendra dan kuasa hukumnya kalau yang melaporkan dirinya hingga berujung salah tangkap adalah VB dan suaminya berinisial BS.

Disebut kalau mereka kehilangan kaca spion kemudian ketika melihat postingan Hendra di akun Facebooknya keduanya langsung menduga itu adalah kaca spion mobil mereka yang telah dicuri.

Setelah itu VB pun langsung menjebak Hendra dengan pura-pura menjadi pembeli hingga akhirnya ia dikriminalisasi.

“Mereka mengaku kehilangan makanya itu dikira punya mereka makanya langsung bilang mau beli. Keduanya bersikeras itu miliknya padahal itu punya saya,”ucapnya.

Atas kejadian tersebut Hendra pun melaporkan oknum polisi di Polsek Sunggal, JNS, BS dan VB ke Polda Sumut dengan nomor laporan STTLP/B/1193/VII/2021/ SPKT /POLDA SUMUT.

Ia pun melaporkan oknum polisi tersebut ke Propam Polda Sumut karena ketidakprofesionalan dalam bertugas.

Ia berharap agar kasus yang telah dilaporkan berbulan-bulan lalu segera diproses agar tak ada lagi korban salah tangkap Polisi.

“Terkait dengan kasus ini harapan saya kalau bisa lebih beretika, lebih profesional dan jangan sembrono serta jangan ada korban yang lainnya. Jangan hanya menduga dan desakan orang,”ucap Dika selaku kuasa hukum korban.

Sampai saat ini awak media masih terus mencoba menghubungi Polda Sumut untuk mengkonfirmasi terkait kelanjutan dari laporan tersebut sudah berjalan ke tahap yang seperti apa. ( Bharata 1 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *