• Jum. Jul 12th, 2024

Ini Pendapat Ahli Hukum Pidana dan Hukum Kesehatan terhadap Dugaan ODGJ Ditahan Polsek Medan Kota

SHARE

Bharata Yudha.Com– Terkait kasus MI, pria berumur 25 tahun, diduga mengalami gangguan jiwa, yang ditahan Polsek Medan Kota dalam perkara pencurian ayam milik warga Jalan Brigjend Katamso, Gang Yatim, Kecamatan Medan Maimun pada 23 Maret 2023 mendapatkan perhatian khusus dari Pengamat Hukum Pidana dan Hukum Kesehatan, Redyanto Sidi.

Redyanto menyebutkan bahwa jika pelaku mengidap gangguan jiwa dan barang yang dicuri tidak lebih dari 2,5 juta maka lebih baik Polisi mengambil langkah-langkah Restorative Justice.

 

“Yang pertama jika ada dugaan pencurian, harus dibuktikan apakah ada bukti permulaan yang cukup, terhadap kasus pencurian itu sendiri harus dicek juga apakah sudah memenuhi nilai yang diatur dalam peraturan mahkamah agung, dalam ketentuanya jelas menyebutkan bahwa nilai barang yang dicuri itu tidak melebihi Rp.2.500.000, itu penting dicatat. Yang kedua terhadap orang terduga pelaku apakah ia mengalami gangguan jiwa, jangankan diperiksa, dia juga tidak bisa dimintai pertanggungjawabannya berdasarkan pasal 44 KUHPidana,” ucap Redyanto Sidi.

Katanya lagi, tak ada alasan bagi dirinya karena memang ia mengalami gangguan jiwa tapi harus ada pemeriksaan dan pembuktian secara medis bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa.

” Yang ketiga ketika yang bersangkutan ditahan oleh pihak Kepolisian, harus jelas dasar penahananya ini sangat penting, kalau yang bersangkutan benar kalau ia mengalami gangguan jiwa atau gila, saya kira tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya pidana. Jika ia saat melakuan tindak pidana yang belum terbukti mendapatkan kekerasan secara bersama-sama, saya kira orang yang melakukan kekerasan pada orang yang mengalami gangguan jiwa dapat dipidana, saya kira ini perlu diformulasikan dan penyelidikan lebih lanjut. Namun saya kira jalan yang terbaik adalah dilakukan Restoratif Justice,” jelas Pengamat Hukum Pidana dan Hukum Kesehatan ini.

 

Tambah Redyanto Sidi lagi, nah pihak keluarga kan ada surat rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit Jiwa  yang menyatakan diagnosa Sementara bahwa Pelaku mengalami Scheizo Phrenio itu dapat ditunjukkan dengan pihak Kepolisian bahwa pelaku mengalami cacat mental atau sakit jiwa dan sebagainya.

” Nah jika saja tersangka ini tidak sakit jiwa maka tetap saja bahwa barang yang dicurinya itu sudah memenuhi ketentuan melebihi dari 2.500.000 jika tidak maka RJ itu menjadi pilihan untuk terbaik untuk dilakukan, apa lagi disampaikan oleh pihak keluarga jika saat ditangkap warga didalam karung yang dibawa tersangka tidak ditemukan barang bukti. Terkait penahanan, saya kira Polisi dapat melakukanya dalam waktu 1X 24 jam bila lebih tentu harus dijelaskan apa status dari yang bersangkutan hingga menjadi tahanan, jika ada bukti permulaan yang cukup tentunya dapat disampaikan pada pihak keluarga, jika bukti permulaan tidak cukup, apa lagi hanya karena masyarakat yang mengantarkan pelaku ke kantor Polisi, saya kira itu bukan satu hal yang baik dalam penegakan hukum hingga Polisi harus mendudukkan perkara ini secara benar-benar agar semuanya mendapatkan keadilan dan menjadi contoh penegakan hukum yang baik pada masyarakat,” jelas Redyanto Sidi.

Sebelumnya diberitakan seorang pria remaja berinisial M I ( 25 ) warga jalan Brigjend Katamso, Gang Setia, Kecamatan Medan Maimun, yang diduga mengidap gangguan jiwa semenjak duduk di bangku SMA inj harus berurusan dengan Polisi Sektor Medan Kota lantaran dituding telah melakukan tindak pidana pencurian ayam di Gang Yatim, Kecamatan Medan Maimun pada tanggal 23 Maret 2023, sekira pukul 3:30 WIB

Menurut keterangan Esti Winarni Nasution ( 46 ) selaku ibu pelaku pada awak media (28/3) di rumahnya kejadian tersebut bermula pada saat anaknya ( M I ) melintas di Gang Yatim dengan membaw goni plastik.

” Anak aku itu kan lagi bawa gini, terus dituduh lah dia mencuri ayam, terus dipukuli warga hingga babak belur, kepala nya pecah dipukul besi dan dibawah matanya luka, saat diperiksa dalam goni itu tidak ditemukan barang bukti berupa ayam seperti yang dituduhkan,” ucap Esti Winarni.

Katanya lagi, kok kayak gitu proses hukum, ya kalau memang anak aku itu salah bawa lah ke kantor Polisi, kenapa dipukuli kayak gitu. Lagian anaknya itu mengidap gangguan jiwa.

” Waktu bapaknya belum meninggal, si MI ini pernah dirawat di rumah sakit jiwa di Simalingkar dan RS jiwa swasta di Kawasan Jalan Sunggal. Makanya ini kami mau ambil surat dari rumah sakit yang menyatakan bahwa MI ini ada gangguan jiwa. Saya selaku orang tua akan melaporkan kembali orang yang telah menganiaya anak aku, kok main hakim sendiri,” ancam ibu pelaku.

Usai kejadian tersebut, masyarakat pun membawa IM ke Polsek Medan Kota dan sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan berdasarkan surat Perintah Penangkapan nomor / 96/III/2023/ Reskrim pertanggal 23 Maret 2023 dan Surat Perintah Penahanan nomor/ 56/ III /2023/ Reskrim Polsek Medan Kota.

Kapolsek Kota, Kompol Selvitriani melalui Kanit Reskrimnya Iptu Widi Lumban Raja melalui sambungan telepon (28/3) sore membenarkan bahwa pelaku sudah ditahan Polsek Medan Kota .

” Pelaku sudah beberapa kali melaksanakan pencurian ayam, pada saat itu menurut warga dia sudah manjat pagar rumah korban. Kejadian sebelumnya juga sudah diakui oleh pelaku bahwa ia yang melakukanya dan ada yang melihat,” ucao Kanit Reskrim Polsek Medan Kota.

Saat ditanyakan kebenaran bahwa pelaku mengidap gangguan jiwa, Widi pun mengatakan agar pihak keluarga bisa menunjukkan bukti dan keterangan medis .

” Kemarin pihak keluarga pelaku sudah hadir dan tidak ada mengatakan bahwa tersangka ada gangguan jiwa. Kalau ada yang menyatakan demikian biar kita bawa ke rumah sakit. Aku pun baru tau dari kawan-kawan media kalau pelaku itu gila, kemaren keluarganya tidak ada menyampaikan, kasih sama kami suratnya biar kami proses. Jangan lah Polisi terus disudutkan, kami netral untuk penegakkan hukum, ada keluarga korban ada keluarga tersangka, jangan sampai keluarga korban pun protes ma kami, makanya kalau ada surat yang membuktikan pelaku ODGJ sampai kan ke penyidik agar kami observasi, jangan cakap-cakap di media,” pungkas Iptu Widi. ( Bharata 1 )

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *